Oh…. Sepak Bola

25 Nov 2011

Sepak bola adalah salah satu cabang olah raga yang banyak di gemari di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Aku tidak akan membahas tentang bagaimana cara bermain bola atau membicarakan prediksi-prediksi pertandingan. Ingatanku kembali pada masa kecilku dulu, bermain bola di tanah lapang. Bukan bermain bola di jalanan.

Sewaktu SD, aku dan teman sepermainan yang rata-rata berumur 10 s.d. 12 tahun memiliki kesebelasan dengan nama kesebelasan BOSIDA (Bocah Sidodadi). Di masa itu hampir di setiap kampung berdiri kesebelasan yang namanya di ambil dari tempat tinggal masing-masing, seperti di jalan Karang Sawah berdiri BOKARSA (Bocah Karang Sawah) dan nama-nama kesebelasan lainnya yang begitu menjamur. Aku ingat, salah satu temanku yang tergabung dalam kesebelasan BOSIDA (Bocah Sidodadi) sekarang menjadi Wasit Sepak Bola Nasional, ia adalah Iis Isa Permana. Selamat ya, Is.walau kau tak mencapai menjadi pemain Timnas tapi kamu telah membuktikan kecintaan terhadap persepakbolaan negeri ini.

Sore itu, seperti biasanya aku pulang mengendarai sepeda motor. Melintas di jalan kampung menuju rumahku. Laju motor begitu pelan dan hampir terhenti, karena aku harus berhati-hati melewati jalan ini. Di kiri jalan, aku sering membaca tulisan di atas papan yang ditancapkan di pohon mangga. Ngebut benjut dan awas banyak anak-anak, pelan-pelan! itulah tulisan himbauan dari pengurus RT yang tak beriklan menghias jalan masuk ke arah rumahku. Begitu banyak anak-anak yang bermain di jalan, bukan bermain mobil-mobilan atau petak umpet tetapi bermain bola. Menabrak anak-anak bukan yang aku khawatirkan, tetapi yang menjadi khawatir malah sebaliknya, anak-anaklah yang nabrak motorku. Miris.

bola2
(gambar diambil dari: degradablethoughts.blogspot.com)

Begitu susahnya sekarang untuk mencari tempat bermain bola bagi anak-anak, tanah lapang semakin jarang bahkan nyaris tak ada. Lahan fasum (fasilitas umum) semakin langka, apalagi tanah lapang milik perorangan. Semua telah berubah dengan gencarnya pembangunan, ruko-ruko, komplek perumahan kelas menengah ke atas berdiri megah. Kalaupun ada lapangan sepak bola, kita harus membayar sewa yang tidak kecil jumlahnya.

Inilah salah satu kendala susahnya mencari bibit muda untuk sepak bola negeri ini. Hanya yang mampu berkompetisi dengan ekonomi mendapat kesempatan lebih baik untuk menjadi pemain bola. Semakin maraknya sekolah-sekolah sepak bola menambah sempitnya kesempatan bagi peminat dari kalangan ekonomi lemah, walau miliki bakat yang tidak kalah hebatnya dengan mereka.

Kurangnya intensitas kompetisi sepak bola (terutama kelompok umur), menambah pekerjaan rumah bagi pencari bakat (bila benar-benar ada pencari bakat profesional).
Sungguh jauh berbeda, dahulu banyak bermunculan klub-klub sepak bola lokal. Klub sepak bola dari kelompok anak-anak sampai dewasa menghias di setiap kampung. Kompetisi pun meriah, banyak even-even yang diselenggarakan. Even Kambing Cup yang dulu populer di kampung-kampung, sekarang telah hilang bahkan punah dan merupakan barang langka.

Anak-anak sekarang lebih banyak disuguhkan untuk menyaksikan pertandingan sepak bola bukan sebagai pemain sepak bola. Sehingga secara psikologis mereka hanyalah penikmat sepak bola dan tingkat emosial mereka melebihi seorang pemain bola. Sehingga hampir di setiap perhelatan pertandingan sepak bola, sering terjadi keributan oleh ulah penonton karena mereka sudah tertanam emosionalnya sejak anak-anak.


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post