Oh…. Sepak Bola

Sepak bola adalah salah satu cabang olah raga yang banyak di gemari di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Aku tidak akan membahas tentang bagaimana cara bermain bola atau membicarakan prediksi-prediksi pertandingan. Ingatanku kembali pada masa kecilku dulu, bermain bola di tanah lapang. Bukan bermain bola di jalanan.

Sewaktu SD, aku dan teman sepermainan yang rata-rata berumur 10 s.d. 12 tahun memiliki kesebelasan dengan nama kesebelasan BOSIDA (Bocah Sidodadi). Di masa itu hampir di setiap kampung berdiri kesebelasan yang namanya di ambil dari tempat tinggal masing-masing, seperti di jalan Karang Sawah berdiri BOKARSA (Bocah Karang Sawah) dan nama-nama kesebelasan lainnya yang begitu menjamur. Aku ingat, salah satu temanku yang tergabung dalam kesebelasan BOSIDA (Bocah Sidodadi) sekarang menjadi Wasit Sepak Bola Nasional, ia adalah Iis Isa Permana. Selamat ya, Is….walau kau tak mencapai menjadi pemain Timnas tapi kamu telah membuktikan kecintaan terhadap persepakbolaan negeri ini.

Sore itu, seperti biasanya aku pulang mengendarai sepeda motor. Melintas di jalan kampung menuju rumahku. Laju motor begitu pelan dan hampir terhenti, karena aku harus berhati-hati melewati jalan ini. Di kiri jalan, aku sering membaca tulisan di atas papan yang ditancapkan di pohon mangga. “Ngebut benjut” dan “awas banyak anak-anak, pelan-pelan!” itulah tulisan himbauan dari pengurus RT yang tak beriklan menghias jalan masuk ke arah rumahku. Begitu banyak anak-anak yang bermain di jalan, bukan bermain mobil-mobilan atau petak umpet tetapi bermain bola. Menabrak anak-anak bukan yang aku khawatirkan, tetapi yang menjadi khawatir malah sebaliknya, anak-anaklah yang nabrak motorku. Miris….

bola2
(gambar diambil dari: degradablethoughts.blogspot.com)

Begitu susahnya sekarang untuk mencari tempat bermain bola bagi anak-anak, tanah lapang semakin jarang bahkan nyaris tak ada. Lahan fasum (fasilitas umum) semakin langka, apalagi tanah lapang milik perorangan. Semua telah berubah dengan gencarnya pembangunan, ruko-ruko, komplek perumahan kelas menengah ke atas berdiri megah. Kalaupun ada lapangan sepak bola, kita harus membayar sewa yang tidak kecil jumlahnya.

Inilah salah satu kendala susahnya mencari bibit muda untuk sepak bola negeri ini. Hanya yang mampu berkompetisi dengan ekonomi mendapat kesempatan lebih baik untuk menjadi pemain bola. Semakin maraknya sekolah-sekolah sepak bola menambah sempitnya kesempatan bagi peminat dari kalangan ekonomi lemah, walau miliki bakat yang tidak kalah hebatnya dengan mereka.

Kurangnya intensitas kompetisi sepak bola (terutama kelompok umur), menambah pekerjaan rumah bagi pencari bakat (bila benar-benar ada pencari bakat profesional).
Sungguh jauh berbeda, dahulu banyak bermunculan klub-klub sepak bola lokal. Klub sepak bola dari kelompok anak-anak sampai dewasa menghias di setiap kampung. Kompetisi pun meriah, banyak even-even yang diselenggarakan. Even “Kambing Cup” yang dulu populer di kampung-kampung, sekarang telah hilang bahkan punah dan merupakan barang langka.

Anak-anak sekarang lebih banyak disuguhkan untuk menyaksikan pertandingan sepak bola bukan sebagai pemain sepak bola. Sehingga secara psikologis mereka hanyalah penikmat sepak bola dan tingkat emosial mereka melebihi seorang pemain bola. Sehingga hampir di setiap perhelatan pertandingan sepak bola, sering terjadi keributan oleh ulah penonton karena mereka sudah tertanam emosionalnya sejak anak-anak.

Kembali Lagi Ke LapCrot

Menulis di #RantaiCerita adalah suatu hal yang baru bagiku, walau demikian penulisan seperti ini adalah tantangan yang mengasikan. Untuk para blogger senior, aku mohon ijin menyambung postingan yang telah dibuat oleh @wkf dan mohon bimbingannya. Setelah postingan ini, kemudian akan dilanjut oleh @1bichara, @erfanonalakiano, @rudigints dan @mataharitimoer. Tema yang telah disajikan oleh saudara @wkf adalah Mendadak Crot. Selamat menikmati……
Read more

KURBAN MENJADI KORBAN

Saya tidak akan membahas kata yang baku menurut KBBI seperti yang telah diutarakan oleh Daeng Khrisna Pabichara di blognya Dusun Kata atau di acara Gempita Bulan Bahasa yang membahas tentang salah guna kata dalam berbahasa indonesia, karena saya bukan ahlinya seperti beliau.
Read more

Oh Kurban

kurbanJelang idul adha, kesibukan mulai terlihat. Pasar dadakan penjual hewan kurban menjamur menyaingi pedagang kaki lima. Di kiri-kanan jalan protokol dijadikan lahan para penjual hewan kurban.
Read more

OPEN HOUSE

Pemerintah Indonesia menetapkan 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Rabu 31 Agustus 2011. Sementara beberapa negeri muslim seperti Malaysia, Singapura, Mesir, Bahrain, Qatar, Kuwait, Tunis dan Saudi Arabia 1 Syawal jatuh pada hari Selasa 30 Agustus 2011.
Read more

SISKAMLING SEMAKIN PUDAR

Pengertian Siskamling secara umum adalah ;
“Suatu kegiatan atau upaya untuk mencegah gangguan kamtibmas, yang dikembangkan oleh Polri dengan membangkitkan kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dan peduli serta meningkatkan kepekaan dan daya tangkal masyarakat terhadap masalah keamanan dan ketertiban di lingkungannya masing-masing”.
Read more

diri

aku dua di dalam satu
menyatu raga dan nyawa

roh berjingkrak
yang bergembira di tengah alam terbuka

di dalam relung hatiku ada gairah
yang alunkan kidung memuji indah

celoteh lebaran

lebaran sebentar lagi
pesta kemenangan kadang terlupa makna

mereka yang merasa punya akan tenang menikmatinya
mereka yang tak ada merasa akan tersiksa
dan tak mampu akan berbuat apa

tawakal akan lebih indah bila hakekatnya kau terima
bersabarlah,
bukan pesta sebagai penebus dosa!

KOALISI NAFSU

keringat berdaki lumuri badan tak peduli
sendu peluk berdebu layu terkulai

jerit lapar dan dahaga tak mampu lagi membilang
kantongi harap, agar rupiah mencumbu keping demi keping
dusta cinta hinggap tak mau menghilang

selaksa janji telah tinggalkan mimpi
terbohongi sumpah preman berdasi
terkekeh riang saling berbagi komisi
tangis negeri warnai kini, atau entah sampai nanti…..

TAK BERBAPAK

ingatanku kembali menyentuh lembar-lembar riwayat
angin meniup goyangkan dedauan kenyataan
perjalanan hidup seperti ikuti air yang mengalir tanpa bantahan
sedih dan gembira berkompetisi harapkan atau tanpa amnesti
Read more